Tangan-Tangan

“Masa kita ngadain acaranya di hutan ?”

Itu adalah respon pertama ketika gue tau kalo acara kelas kampus akan diadakan di Coban Rondo. Sebenernya gak ada yang salah dengan coban tempat itu, tapi menurut gue gak asyik aja kalo acara kelas harus di adakan di tengah hutan yang jauh dari peradaban. Coban rondo sendiri adalah salah satu tempat tujuan wisata yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kota Malang. Wisatanya berupa air terjun dan kadang tempat ini sering dibuat untuk diklat outbound, pengenalan alam, atau ospek kampus.  Gue sendiri agak sreg dengan tempatnya sendiri, karena ya itu tadi. Mau apa di tengah hutan gitu ?

“ini adalah tempat paling sesuai dengan budget kita ric, yah lumayan loh dengan harga ya ga begitu mahal kita bisa mendapatkan villa segede ini” Jawab Bogi, ketua panitia dari acara kelas kali ini. Karena emang gue gak punya kemampuan untuk mengubah ya udah ikut setuju aja deh.



**

Tempat ini dinamakan coban rondo, konon katanya jika ada orang jomblo dan berkenalan dengan seseorang disini maka akan awet seumur hidup, sebaliknya jika kesini bersama pasanganya maka akan bubar hubunganya. Mitos yang aneh bukan ?.

Menurut rencana sih, perjalanan akan dimulai jam 3 sore tapi dasar yang namanya orang indonesia memiliki jam karet akhirnya perjalanan baru bisa berangkat jam 6 malam. Berangkat bersama 5 teman lainya, perjalanan menempuh jarak 1 jam. Sepanjang perjalanan banyak ditemui rumah-rumah penduduk, yang semakin jauh semakin dikit jumlahnya. FYI, dari kelima orang yang menaiki mobil ini gak ada satupun yang tahu villa dimana menginap.  Petunjuk yang diberikan sebelum berangkat pun minim:

“Setelah 1 kilometer pos, Itu satu-satunya villa yang cukup gede disana”

Ternyata petaka terjadi disini karena setelah melewati pos dan berjalan sepanjang 1 kilometer, tidak menemukan satupun rumah. Sebenarnya ada sih rumah tapi kayaknya sepi banget, dan gordenya bergerak-gerak dikit. Waktu itu gue udah mengira itu adalah vila yang dimaksud, tapi temen gue ngomong “Ah ini masi belum 1 kilometer”. Pas gue tanyain kenapa gordenya gerak malah dijawab sekenanya “Hantu kali”

Perjalanan makin lama makin gelap, di sebelah kanan tampak jurang yang gelap dan gak bisa diperkirakan kedalamanya. Kita sih masi santai-santai aja sampai setelah sekitar 10 menit keadaaan semakin gelap dan berada di tengah hutan, kita baru sadar kalo kemungkinan nyasar. Panik ! Apalagi jalanan kecil sekali. Akhirnya diputuskan untuk memutar , masalah tidak sampai disini karena saking kecil dan gelap jalan maka memutar adalaah hal yang susah. Maka gue putuskan untuk keluar, maksudnya memberi aba-aba jika mobil sudah dipinggir jurang. Tapi dasar kelar dibantuin, mereka malah tancap gas bermaksud ninggal gue di tengah hutan sendirian.

Akhirnya setelah beberapa saat, tiba juga di villa yang di maksud.  dan hal yang pertama kali gue protes adalah sepinya keadaan villa pada saat lewat disana. Ternyata jawabanya diluar dugaan gue

“Kita abis solat tadi ric, pantas aja sepi”.  Yeee.. Bilang dong dari tadi.

Secara umum keadaan villanya bagus, keadaan sekitarnya sih dikelilingi hutan, didalamnya ada 6 kamar  tidur berderet dan satu aula yang cukup besar dan bisa menampung 100 orang. Tapi yang gue gak ngerti adalah foto yang menempel  di aula itu berderet-deret foto tentang di dalam hutan. Gue jadi ngerasa aula ini bagian dari dalam hutan aja ketika melihat fotonya.

Karena sudah malam, acara yang dilakukan adalah dengan menonton film bersama menggunakan LCD proyektor yang sebelumnya sudah dipinjam. Kebetulan gue kebagian menjadi tukang operator film malam ini, film yang gue siapkan adalah Excorism. Salah satu film horror legendaris yang pernah dibuat dan sukses membuat merinding disko satu aula yang menonton filmnya. Kelar acara semua pada balik ke kamar  dan gue memutuskan untuk tidur di dalam aula saja karena masih ingin melihat film lagi. Bersama beberapa anak yang mutusin tidur di aula, sambil menonton film ternyata gue tertidur..

**

Rasanya hanya tertidur sebentar ketika gue membuka mata dan melihat aula isinya kosong dan gelap. Film yang sebelumnya tayang sudah mati. “Pada kemana semua ni anak?” gumam gue.

Diluar masih tampak gelap dan gue pun memutuskan untuk keluar aula. Kendaraan anak-anak masih tampak terparkir tapi disetiap kamar tampaknya sudah tidak ada orang lagi. Entah mengapa gue tiba-tiba memutuskan untuk berjalan menyusuri hutan-hutan pada tengah malam ini. Berjalan pelan gue seraya mulai melihat hutan-hutan ini. Rasanya familiar hingga gue menyadari ini tampak seperti foto yang menempel di dinding Aula. Keadaan di hutan sangat sepi, bahkan tidak ditemukan satu hewan pun, di hadapan mata hanya berderet-deret Pohon pinus yang tinggi.  Tidak lama setelah berjalan 10 menit gue mendengar sayup-sayup dari kejauhan tampak keramaian seperti ada acara api unggun. Terdengar suaranya ramai manusia hingga membuat penasaran, sambil berjalan pelan gue mendekat kearah sana, tidak sampai jalan 10 langkah tiba-tiba kaki terperosok ke lubang. Lubahnya dalam. Dalam sekali  bahkan hampir setengah dari tubuh dan saat dimana gue mulai akan berteriak minta tolong.

Tiba-tiba gue terbangun,

Sedikit shock, “Oh ternyata mimpi” pikir gue

Bermaksud bersyukur karena semuanya mimpi, gue pengen bangun untuk melihat keadaan sekitar. Tapi badan gue ternyata gak mau bergerak, mampus , gue malah tindihan.Ketika  badan gue gak bisa gerak sama sekali alias tindihan, tiba-tiba di seberang aula muncul tangan yang jumlahnya cukup banyak seperti Ganesha, cuma disini gak keliatan mukanya. Di aula sih masih ada temen-temen yang terlelap tidur dan gak melihat “Tangan-tangan” ini. Sedangkan gue dipaksa melihat dan tidak bisa bergerak sama sekali. Tidak tahu untuk berbuat apa, akhirnya gue memejamkan mata dan berdoa.

Selang satu menit memejamkan mata, akhirnya gue mencoba membuka mata dan melihat semua kembali keadaan normal dan tindihan gue hilang. Gue melihat jam dan baru menunjukan jam 2 malam atau berarti baru tidur 1 jam. Sambil menahan kantuk gue mencoba berpindah posisi, kali ini gue lebih dekat ke posisi tidur temen gue siapa tau gue mengalami hal yang sama dan bisa meminta teman untuk membantu kalo ada masalah lagi.

**

Paginya gue cerita ke temen gue tapi mereka gak ada yang terbangun seperti gue dan akhirnya malam kedua gue memutuskan untuk pulang dan balik paginya. Esoknya ketika semua pada persiapan untuk pulang, gue lagi mengobrol santai dan mendengar ternyata ada satu temen gue yang juga mengalami hal mirip ketika tidur malam harinya gue pulang itu. Bedanya yang dia liat adalah sosok wanita.

Kalo misalnya aja gak ngeliat sendiri “tangan-tangan” itu pasti anggapan gue adalah dia berhalusinasi, sayangnya gue liat sendiri. Uh

Comments

  1. gilaaa. serem banget kayak nya itu villa
    aku sampe merinding baca nya --a

    ReplyDelete
  2. ituu.. nonton film horor sih baang, jadi kebawa mimpi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Susahnya Pasang Indihome di Nagekeo

Resident di Era Covid

Pembasmi Pembuang Tinja Sembarangan