Jalan Selai Cokelat di Pulau Sempu

Mau dengerin cerita serunya di sempu dan segara anakan ?


Ah, Boring


Pasti semua udah tau dengan keindahan pulau yang terletak di selatan kabupaten malang ini. Nah, kali ini adalah salah satu pengalaman lain tentang mencapai sempu itu


**


Alkisah di pertengahan tahun 2010, gue tiba-tiba dapet ilham entah dari mana untuk ngajakin temen satu kelas kuliah untuk main ke pulau sempu.


Fyi, pulau sempu adalah salah satu pulau di selatan jawa yang menjadi primadona untuk traveller karena keindahan alamnya. Apalagi disana termasuk dalam cagar alam, dan ya masih alam gitu keadaanya sampai sekarang.



Emang ada apa sih di pulau sempu ? Jadi ini pulau terkenal dengan keindahan pantainya, dan spot yang paling terkenal adalah segara anakan yaitu  air laut yang terperangkap di daratan sehingga menjadi sebuah danau, air-air tersebut masuk melewati celah-celah di tebing curam yang melindungi segara anakan dari lautan lepas. Karena ini adalah tempat cagar alam, maka semua pun harus dilakukan dengan jalan kaki.


Oke, gitu ini teorinya sih kita bisa menempuh ke segara anakan dalam waktu 45 menit dan satu jam, iya itu teorinya, dan biar lebih menghayati ini adalah maps dari pulau sempu



Jadi dari kota malang, lalu dilanjutkan ke sendang biru, menyebrang, dan dilanjutkan jalan ke Segara anakan. Dari kota Malang ke sendang biru perjalanan darat sekitar 2 jam, lalu dilanjutkan dengan naik perahu layar yang bisa diisi orang 10 dengan harga sekitar 100 ribu (tahun 2010). Sebenernya deket kok nyebrangnya, kalo pengen murah sih renang aja tapi entar sampe sana langsung semaput




[caption id="" align="aligncenter" width="432"] Naik kapal dulu, biar ga capek[/caption]

Masalah muncul ketika gue nyampai di tempat penyebranganya, jadi ketika kita ijin ke pos (kan cagar alam jadi harus "ijin") ternyata baru dikasih tahu kalo 2 hari terakhir daerah situ diguyur ujan lebat,


"Syukur mas hari ini gak ujan", Kata petugas pos itu


"Tapi mas, kalo ujan gini, biasanya becek banget, jadi harus bawa sepatu", petugas yang lain menimpali


Uh, mampus dalam hati gue


Karena di kota malang udah ga ujan hampir satu minggu, dan gak nyangka kalo ujan daerah sana. Bahaya yang gak dipersiapkan muncul : tanah berubah menjadi selai coklat


Tapi karena udah nanggung banget, bawa rombongan sekitar 11 orang dan harus pulang karena jalanan berubah menjadi nutella kan gak "lakik" akhirnya kita pun memutuskan berangkat bermodal nekad.


**


1,8 km adalah jalan yang harus di tempuh ketika perjalanan ke segara anakan itu itu. Manusia normal bisa menempuh perjalanan itu dengan jarak tempuh 20 menit aja dengan jalan kaki, tapi yang ini beda


Jalanan pertama terasa biasa aja dengan struktur tanah yang masih keras


"Ah kalo kaya gini aja mah cemen, aman lah sampe depan", Batin gue




[caption id="" align="aligncenter" width="432"] Jalan yang harus ditempuh[/caption]

Dalam hati gue riang gembira aja deh, tapi ternyata muncul masalah dengan banyaknya jalan berbentuk selai dan yang membahayakan : Licin


Gue udah berusaha bermanuver seindah mungkin mencoba melewatinya, tapi tetep aja gue bisa terpleset.


Gedubrak


Buset, gue terpleset di tanah liat yang licin sehabis ujan, tapi emang salah gue sih ngambil di posisi tanah liat yang miring hampir 45 derajat, inilah hukumanya.




[caption id="" align="aligncenter" width="432"] Karena licin, lepas sandal deh[/caption]

Dan selama 3 jam kedepan ( apa gak gila 1,8 km ditempuh dalam waktu segitu? ) yang ada hanya keluh kesah anak-anak, sambil berharap kapan segara anakan muncul. Kayaknya hampir semua rombongan pernah terpeleset deh




[caption id="" align="aligncenter" width="432"] Seperti hidup di jaman-sebelum-ditemukan-sandal[/caption]

Berbagai macam cara dilakukan untuk melewati ganasnya jalan selai cokelat ini, misalnya ada temen gue yang tiba-tiba membawa tongkat penunjuk jalan. Lalu ada juga yang mencopot sandalnya, gue sendiri karena udah punya firasat jelek, memutuskan untuk menyewa sepatu di kios kios tempat penyebrangan. Jadi sepatunya mirip sepatu bola, tapi tetep aja itu gak bisa menghindari untuk jatuh


**


Fyuh, 3 jam terlalui akhirnya sampai di segara anakan. Masalah lagi lagi muncul karena jalanya udah macem kura-kura ngesot, maka waktu disana hanya dikasih 1 jam. Ini dilakukan karena entar kalo telat bisa-bisa nyasar di tengah hutan, karena kalo malem gelap banget euy.


Kegiata diisini dengan main bola, main air, makan-makan, ada yang solat, yah kegiatan sebagaimana mestinya kalo lagi di pantai deh.




[caption id="" align="aligncenter" width="432"] Istirahat di segara anakan[/caption]

Cuma sejam dan kita pun balik ke tempat penyebarangan. Kalo pas berangkat kita sering untuk bercanda, ngobrol, dan teriak, nah pas pulang udah diem aja semua. Cape sih




[caption id="" align="aligncenter" width="432"] Sunset di sempu[/caption]

Comments

  1. wkwkwk selai cokelat..
    gak sekalian aja mentega cokelat gitu..

    itu kaki udah ga kebentuk kaya abis maen bola dilumpur lapindo ya
    hahahaha

    ReplyDelete
  2. belom pernah ke situ, padahal dulu bertahun2 tinggal di Tulungagung. pikir2 dulu deh kalau mau ke sana, soalnya cuma liat segara anakannya-kalau rame2 sih gpp.

    ReplyDelete
  3. Sayangnya sekarang pulau sempu udah ditutup untuk umum -,- dan sudah diperketat penjagaan dan perizinannya...
    Perbanyak postingan perjalanan ya kak ;)

    ReplyDelete
  4. indah benar pulau sempu ini,
    mari kita jaga dengan tidak membuang sampah sembarangan...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Susahnya Pasang Indihome di Nagekeo

Resident di Era Covid

Pembasmi Pembuang Tinja Sembarangan