Tiga Pria Tambun dan Hujan

Saat itu pertengahan tahun 2008, ketika itu saya masuk ke dalam kelas kalkulus 1 dimana isi satu kelasnya adalah anak-anak dari berbagai jurusan di ITS. Luntang-luntung gak tau mau duduk dimana akhirnya saya memutuskan untuk duduk di belakang sendiri.


Tampak ada kursi kosong di sebelah  anak yang agak  berbadan tambun, langsung aja setelah itu saya duduk di sebelahnya. Seperit anak maba ingusan pertama kali di tempat baru, saat itu saya berkenalan. "Eric, dari teknik kimia", saat itu masih aga jaim-jaim aja. Lalu dia menjawab "Fahmi, teknik kelautan".


"Dari mana mi ?"


"Malang, kamu sendiri ric?"


"Lah saya juga dari malang", jawab saya


Sejak itu akhirnya kita sering main bareng, pernah saya menyelamatkan dia dari kos-kosan karena di usir oleh yang punya. Setelah saya pindah ke brawijaya, akhirnya dia menghuni kamar keramat kos-kosan aku.


Personil bertambah dengan salah satu temen kelas TPB, anak sipil, si reksa. Cowo berbadan tambun asal sidoarjo, sehingga pas bangetlah ini mirip kumpulan om-om


**



6 tahun kemudian, di malang tiba-tiba si fahmi ngajakin keluar. Berhubung terakhir ketemu 3 tahun yang lalu akhirnya kita pun bela-belain untuk ngumpul, si reksa menempuh jalan 5 jam pp dari sidoarjo, sedangkan saya pamit cabut duluan dari puskesmas.


Berkumpulah kita di salah satu kafe kota malang, pada jam 12 siang. 3 orang cowo-cowo berbadan tambun tampang om-om di kafe  sabtu siang, kita udah serasa om-om salah jadwal buat hunting cewe muda aja.


Seperti biasa, reuni pasti membicarakan tentang cerita masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Si fahmi udah menjadi karyawan salah satu bumn, reksa mulai kembali ke trek pekerjaan yang sesuai ilmunya, dan saya ? uh masih kesana-kemari menimba ilmu yang gak akan kelar.


Walau begitu, ternyata ada misi khusus dari si reksa ketika di malang : pengen melihat Hujan. Tahun ini bisa dikatakan miskin hujan, apalagi beberapa bulan terakhir hawa panasnya udah serasa di ujung ubun-ubun.


"Pep, tau gak suhu di surabaya sempet sampai 42 derajat celcius, ketika lihat suhu itu dari dalam mobil, aku gak jadi keluar. Panas banget !", kata si reksa


42 derajat celcius...


Saat itu saya jadi inget ketika di surabaya, dan suhu mencapai 38 derajat celcius, . Perasaan udah gerah mulu, ketika tidur di kos jarak antara kipas angin dan tubuh mungkin hanya 1 meter saking panasnya dan anehnya bangun besoknya gak akan masuk angin, jadi curiga anginya udah menguap sebelum kena badan saya.


Ternyata doa reksa terkabul juga, karena hujan mulai turun, sehari sebelumnya emang udah ujan tapi masuk kategori badai dimana anginya was-wus-kanan-kiri dan gak bisa dinikmatin. Kali ini hujanya dalam kategori damai, deres banget tapi tanpa angin.


WP_20141108_15_02_19_Pro (Copy)


Karena saking lamanya kita gak liat ujan, jadi semua menghadap arah taman dan melihat hujan membasahi taman kafe tersebut.


Tiga cowok berbadan tambun di kafe pada sabtu siang sedang melihat hujan turun. co cwiit..



Comments

  1. Suhu udara belakangan memang bikin pingsan, Jombang aja panasnya minta ampun, tapi syujur beberapa hari ini sudah hujan. Wah kapan ya sy terakhir reuni dg kawan-kawan.

    ReplyDelete
  2. Duh romantis lo Ric, ada lampu2 temaram ala Monopoli. Sayangnya, lanang kabeh :') Ada yang bisa dikenalin gak? *eh*

    ReplyDelete
  3. Di jogja pun akhirnya ujan tiap hari juga hahhaha. Alhamdulillah. Anw cafenya lucu ya bang arsitekturnya jawa banget.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Susahnya Pasang Indihome di Nagekeo

Resident di Era Covid

Pembasmi Pembuang Tinja Sembarangan