Panduan Pasien Dengan Sakit Jantung Ketika Terjadi Bencana Alam

Indonesia adalah negara yang rawan bencana, berada di zona ring of fire mengakibatkan negara ini harus sering menghadapi gempa bumi. Ada negara yang mirip dengan indonesia, yaitu jepang, tapi memiliki perbedaan yang cukup jauh. Selain dari masyarakatnya, teknologi, dan juga panduan ketika bencana.

Disini saya coba merangkum panduan berjudul guidelines for diaster medicine for patiens with cardiovascular disease yang dikeluarkan oleh official journal of the japanese circulation society. Panduan ini menjelaskan tentang bagaimana kita merawat korban bencana alam yang memiliki sakit jantung

**

Pada 11 maret 2011, gempa berkekuatan 9.0 SR mengguncang jepang timur dan diikuti oleh tusnami yang membuat sekitar 450.000 orang harus mengungsi. Perubahan ini mengakibatkan meningkatnya stress mental dan fisik yang herhubungan dengan penyakit jantung

  • Penyakit Jantung infark

ini adalah salah satu penyebab utama kematian akibat sakit jantung

Penyebab utama mengapa ini terjadi, mungkin karena ketika terjadi bencana fisik dan mental meningkat sehingga menyebabkan lesi aterosklerosis pada seseorang

  • Gagal jantung

Setelah terjadi gempa jepang tahun 2011, terjadi kenaikan kasus untuk gagal jantung yang dilaporkan pertama kali. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa aktifasi dari nervus sympatik sistem akibat stress-pasca-bencana. Aktifasi ini menimbulkan kenaikan tekanan darah dan aritmia. Hal ini diperparah dengan kurangnya obat, meningkatnya konsumsi garam karena kekurangan makanan, suhu rendah, pnemuonia atau penyakit infeksi lainya.

  • DVT

Hubungan antara deep vein thrombosis (DVT) dengan pulmonary embolism ini mungkin dipengaruhi oleh korban bencana yang duduk di mobil terlalu lama ketika terjadi proses evakuasi

  • Hypertensi

Ketika stress, perubahan lingkungan, kurangnya tidur akibat bencana, hal ini menyebabkan hiperaktifasi nervus sympatik sistem yang membuat vasokontriksi pembuluh darah. Pada gempa di jepang, rata-rata sistolik korban naik 12 mmHg dan denyut nadi 5 bmp.

Pada tabel di atas, dijelaskan dengan faktor pencetus gempa maka akan menimbulkan berbagai macam masalah di jantung dan pembuluh darah yang mengakibatkan kematian

***

Terdapat fase untuk menentukan skala prirotas mengenai makanan dan nutrisi yang harus perhatikan.

Seperti tabel di atas, terlihat bahwa pertama kali adalah memastikan makanan dan minuman untuk orang-orang, baik bayi, orang dewasa, orang tua, dan juga yang memiliki kebutuhan khusus akibat penyakit yang diderita (misalnya sakit gagal ginjal, dan juga alergi makanan). Semua ini akan menjadi perhatian ketika di pengungsian. Ahli gizi harus dilibatkan dalam kasus seperti ini, maka diperlukan kerja sama lintas sektoral.

**

Untuk menentukan faktor resiko korban bencana terhadap penyakit jantung, bisa dihitung melalui skor ini.

Skor dihitung dari umur, keluarga yang menjadi korban, rumah, komunitas, riwayat hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung terdahulu. Skor ini akan dijumlahkan, dengan skor maksimal 7 point. Jika seseorang memilki skor lebih sama dengan 4, maka dikatakan memiliki faktor resiko sakit jantung yang tinggi. Orang-orang yang memiliki skor ini harus diobati sehingga tidak semakin tinggi skornya

Sedangkan ceklist dari pencegahan sakit jantung juga tersedia yaitu sebagai berikut

Dari ceklist terlihat jika mengurangi faktor resiko stress, adalah yang utama. Setelahnya aktivitas  jalan sekitar 20 menit sehari, diet, menjaga berat badan, mengontrol infeksi, pencegahan terhadap penyakit thrombosis, pengobatan dari penyakit sebelumnya, dan terakhir mengontrol tekanan darah.

Dengan adanya panduan ceklist ini diharapkan tidak ada yang tertinggal ketika melakukan pencegahan.

**

Di jepang sendiri sudah dibentuk DCAP (Disaster Cardiovascular Prevention Network). Sebuah jaringan dengan menggunakan teknologi untuk mengumpulkan data tekanan darah pasien.

Dari gambar terlihat jika pasien akan diperiksa tekanan darah dan data akan tersimpan pada komputer awan. Data ini akan diolah sehingga memudahkan para ahli kardiologi untuk menyeleksi awal pasien dengan tingkat resiko yang tinggi

 

**

Ada beberapa konsep yang dilakukan tim medis ketika terjadi bencana yang disingkat menjadi CSCA. Kepanjangan dari masing-masing kata adalah Control. Safety, Communication, dan Assesment

Command dan Control bertujuan untuk mendirikan pusat komando yang teroganisir. Hal ini yang paling utama setelah terjadi bencana.

Safety sendiri adalah keamanan dari tim penolong, kondisi tempat yang terkena efek, dan korban selamat. Lalu terakhir adalah Assesment yang dibuat untuk mengumpulan data untuk menentukan tujuan dari tim penolong.

Lalu TTT sebagai 3 faktor suport, yaitu Triage, Treatment, dan juga Transport.

Triage sendiri adalah keadaan dimana tim penolong menentukan prirotas berdasarkan luka yang diderita korban dan dilanjutkan dengan Treatment, dimana penangan darurat pertama harus dilakukan, terakhir adalah tranposrtasi untuk korban yang membutuhkan penanganan lebih lanjut

 

Peran ahli cardiolog dalam bencana alam

Dari laporan sejumlah tempat yang terkena bencana alam, disimpulkan bahwa akan meningkatkan resio penyakit jantung. Ahli jantung sendiri berperan dalam penanganan korban dengan membantu deteksi dini korban yang memiliki resiko tinggi sakit jantung sehingga tidak menimbulkan keterlambatan.

**

Materi guideline ini bisa diunduh di https://www.jstage.jst.go.jp/article/circj/80/1/80_CJ-66-0121/_html/-char/en

 

Leave a Comment.